Ayah, Bunda, Ajari Aku Bermasyarakat Ya!!

“Ayah, aku pinjem handphone ya. Aku mau main game”
“Bunda, di mall ini ada wifi gak?”
“Dek, ini tab nya daripada bosen kamu main ini aja”
“Lo main clash royale juga kan? udah level berapa? Tanding ya kita?
“IG lo apa sih? Lo add gue ntar gue follow ya

Kalimat dalam percakapan-percakapan di atas sudah sering didengar oleh ayah bunda atau bahkan dialami juga oleh ayah bunda. Secara populer, kita dikenalkan dengan beberapa generasi, seperti generasi baby boomer (orang yang lahir di tahun 1946-1964), generasi X (orang yang lahir pada tahun 1960-1980), generasi Y (orang yang lahir 1981-1994), dan generasi Z (orang yang lahir 1995-2010).

Permainan Tradisional Jawa Barat, Oray-Orayan

Besar kemungkinan anak-anak kita saat ini berada pada masa generasi Z. Anak-anak kita yang lahir saat ini merupakan generasi Z yang hidup di era digital, internet, dan teknologi. Mereka sangat cepat belajar hal-hal yang berkaitan dengan teknologi sehingga mereka sangat akrab dan mampu mengaplikasikan berbagai sistem, aplikasi, maupun game yang ada di handphone, tab, dan laptop. Anak-anak yang notabene lahir pada generasi Z wajib memiliki orang tua yang peduli dengan keaktifan fisik mereka guna menyokong tumbuh kembang fisik dan psikologis yang optimal. Tumbuh kembang ini sangat berguna untuk dapat berhasil mengikuti tahapan perkembangan lanjutan dari anak.

Manfaat Bermain

Aktivitas untuk anak-anak yang sangat besar manfaatnya dalam membantu mengoptimalkan perkembangan fisik, kognitif, sosial, emosional, dan kreativitas adalah bermain. Bermain adalah kegiatan terstruktur maupun tidak terstruktur, dapat menggunakan mainan maupun tidak, yang dipilih secara bebas oleh seorang individu. Keceriaan merupakan kerangka yang ada di pikiran ketika seseorang bermain. Bermain dapat menurunkan kecemasan, dapat meningkatkan kesenangan, keintiman, dan harga diri. Dengan bermain anak-anak juga belajar terbuka dengan orang lain, belajar mengenai konsep keadilan, berbagi, empati, perasaan iba, belas kasihan, dan lain sebagainya. Dampak bermain yang dirasakan secara fisik adalah dapat meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kelenturan tubuh sehingga kemungkinan cedera akan berkurang, meningkatkan keseimbangan tubuh, dll.

Konsep Abstrak

Media bermain juga dapat digunakan untuk mengenalkan berbagai konsep abstrak kepada anak-anak, seperti konsep keadilan, kerja sama, kewarganegaraan, dan budaya. Sebagai bagian dari seorang warga, anak-anak perlu dikenalkan tradisi dan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat agar mereka memahami simbol atau aturan yang berlaku. Dengan demikian, identitas mereka sebagai warga negara dapat dipahami dengan baik. Konsep-konsep ini cukup berat diberikan kepada anak bila dijelaskan di kelas-kelas. Namun bila diberikan melalui proses bermain maka anak-anak akan mudah menyerap konsep tersebut dan tentunya mereka menjadi lebih mudah paham.

Permainan Tradisional

Sangat beruntung kita hidup di negara tercinta ini yaitu Indonesia. Dengan adanya beragam pulau dan suku maka beragam pula adat istiadat dan budaya yang kita miliki. Artinya, beragam pula acara keagamaan, festival budaya, rumah adat, dan tentunya permainan tradisional. Permainan-permainan tradisional yang banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah petak umpet, bentengan, congklak, gasing, egrang, lompat tali, ular naga, engklek, bekel, dan lain lain. Hebatnya lagi hidup di Indonesia, anak-anak ini minimal satu tahun sekali pasti mengikuti permainan tradisional yang dilombakan dalam acara 17 Agustus, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia.

Permainan Tradisional Anak pada Perayaan HUT Kemerdekaan RI 2016 di Bintaro Xchange Mall

Dalam ilmu psikologi, permainan tradisional masuk dalam kategori permainan sosial. Artinya, proses bermain dilakukan secara bersama-sama dengan anak lain. Dalam permainan sosial terdapat beberapa aturan yang harus dipatuhi bersama. Proses mengikuti aturan ini yang menjadi proses mereka untuk berlatih masuk pada lingkungan sosial di luar lingkungan keluarga. Agar mereka dapat survive di lingkungan sosial tersebut, mereka memerlukan beberapa keterampilan dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Keterampilan-keterampilan tersebut dapat dilatih ketika mereka bermain dan bekerja sama dengan anak lainnya.

Ketika bermain sosial mereka harus bernegosiasi, bekerja sama, bersikap adil, memaafkan, dan percaya dengan orang lain. Anak-anak memerlukan strategi tertentu agar proses bermain dapat terus berlangsung. Salah satu strategi yang berhasil mempertahankan keceriaan dalam bermain sosial adalah bermain dengan adil dan jujur. Dua konsep ini tentunya akan sangat berguna ketika mereka masuk dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih besar dan luas. Semakin sering mereka melakukan permainan tradisional maka semakin siap mereka menghadapi lingkungan bermasyarakat yang lebih luas.

“because of its significance in development, play may provide a foundation of fairness and cooperation that is advantegeous to communal living” (Jeffrey Goldstein).

Penulis:
Adriatik Ivanti, M.Psi, Psikolog
Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

Leave a Reply