Sel. Nov 19th, 2019

Apa yang Harus Kita Lakukan Bila Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Pada tanggal 31 Oktober 2019 Jurusan Psikologi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) menggelar seminar “Mencegah Kekerasan Gender Berbasis Online”. Seminar ini merupakan kerja sama UPJ dengan lembaga atau inisiatif Never Okay Project. Hadir sebagai pembicara tunggal adalah Fiana Dwiyanti yang merupakan Head of Social Change pada inisiatif Never Okay Project. Didampingi Clara Moningka, staf pengajar Program Studi Psikologi UPJ yang bertindak sebagai moderator.

Menurut Fiana yang merupakan lulusan S1 Kriminologi UI, definisi pelecehan seksual dari ILO, lembaga ketenagakerjaan dari PBB, adalah tindakan verbal maupun fisik dengan sasaran seksual yang tidak diterima oleh sang korban.

Alumni S1 Jurusan Kriminologi UI dan S2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja UI menyatakan bahwa pelecehan di tempat kerja nyatanya dapat dialami oleh siapapun, tidak terlepas oleh apapun jabatannya dan gendernya. Jangan-jangan sebagian kita pernah mengalami, namun tidak menyadarinya karena hal itu seringkali dibalut dengan bercanda dan dilakukan oleh kolega terdekat kita di lingkungan kerja.

Never Okay Project ini  memiliki website berbahasa Indonesia yang menampung cerita pengalaman para korban. Inisiatif yang dibangun oleh 6 orang sahabat ini berdiri dua tahun yang lain. Hebatnya dalam waktu singkat sudah banyak yang curhat ke website ini. Dalam sebulan pernah ada sampai 15 cerita yang masuk. Total hingga saat ini sudah ada 100 curhatan yang masuk ke website tersebut.

Di samping website, inisiatif ini juga melakukan roadshow penyuluhan ke kampus-kampus seperti Jurusan Psikologi Atma Jaya, Kedokteran Umum UI, Fisip UI, Universitas Tanri Abeng, Universitas Paramadina, Universitas Negeri Jakarta. Juga telah bekerja sama dengan beberapa organisasi buruh agar dapat memberikan sosialisi bahaya pelecehan seksual di tempat kerja.

Tujuan dari inisiatif Never Okay Project adalah untuk menciptakan lapangan kerja yang nyaman dan aman bagi seluruh pekerja. Mau tau seperti apa curhatan korban pelecehan seksual? Berikut ini adalah salah satu kutipannya.

Kerja di usia yang masih sangat muda, membuatku disepelekan. Apa mungkin rekan kerjaku berpikir aku “gampang” karena masih muda? Masih anak kecil dibanding rekan perempuan lainnya?

So, mereka seperti seenaknya memperlakukanku. Beberapa tahun lalu ada pergantian bos di tempat kerjaku. Atasanku yang baru ini terkenal dengan bercandaan genitnya seperti “Beb, Sayang, Cantik,atau bahkan Adek”. Aku yang merasa tidak nyaman pernah berani bicara langsung “Saya ga nyaman dengan panggilan itu, Pak. Tolong panggil nama saja”. Beliau cuma diam.

Sering sekali, bahkan hampir setiap hari aku menerima pesan yang berbunyi “Dek udah makan?”. Pesan-pesan ini aku terima di luar jam kantor, dan sesering itu juga aku mengabaikan pesan itu karena berpikir toh, ini udah bukan jam kerja, dan konteksnya bukan tentang pekerjaan. Sering juga memaksaku supaya pulang sama-sama. Setelah itu dia akan menghujani aku dengan pertanyaan “Kok ga dibales? Aku ada salah apa sama kamu. Dek?” atau “Kamu marah ya?”.

Demi Tuhan, what the hell is wrong with you???? Pernah dia protes karena aku tidak pernah membalas pesannya itu. “Kamu online tapi ga pernah bisa bales pesan saya, kenapa sih? Susah banget ya?”. Dari awal aku coba menghindar karena bagaimana pun juga itu atasanku, aku tetap ingin ada hubungan baik sebagai rekan kerja.

Bila kita melihat curhatan di atas, data narasumber dirahasiakan. Demi keamanan jati dirinya. Sang narasumber cukup menyebutkan inisial namanya, kota tempat tinggalnya dan industri di mana dia bekerja. Never Okay Project telah mengadakan survei di beberapa kota di Asia. Hasilnya menunjukkan bahwa pelecehan paling banyak terjadi dalam bentuk lisan, fisik dan isyarat atau gesture tangan. Kebanyakan dialami oleh para perempuan di industri kreatif.

BACA JUGA  Sains itu Menyenangkan

Fiana yang merupakan lulusan S2 UI Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja menuturkan bahwa sebenarnya ada beberapa cara untuk mencegah pelecehan seksual di tempat kerja:

  1. Harus mengecek regulasi perusahaan di mana Anda mau bekerja. Ini penting untuk melihat campur tangan perusahaan dalam melindungi para karyawannya.
  2. Harus mengetahui batas profesional dan berteman di kantor. Seringkali pelecehan terjadi bercampur dengan candaan.
  3. Harus berani speak up. Misalnya tegas berkata bahwa kita tidak suka bicara sambil paha kakinya dipegang.

Seminar ini sangat antusias diikuti oleh 129 mahasiswa di kampus UPJ. Sebagai penutup, Ibu Clara selaku moderator mengingatkan bahwa para mahasiswa harus sadar bahwa dirinya tidak boleh sembarangan memposting segala sesuatu di social media. Dan bila terjadi pelecehan seksual, sang korban harus melapor ke dosen. Jangan curhat kepada teman. Bahayanya adalah bila suatu saat bermusuhan, sang teman bisa menyebarkan kisah Anda ke mana-mana. Jika Anda pernah mengalami sebagai korban, jangan pernah menyalahkan diri sendiri.

So, untuk tahu lebih dalam apa saja sih yang dapat dikatakan pelecehan seksual di tempat kerja dan bagaimana tindakan preventif yang harus kita lakukan agar menghindarinya? Yuk, simak video berikut https://www.youtube.com/watch?v=gQlKXpoxdwMdan jangan lupa share ke rekan-rekan kerjamu!

Info lebih lanjut:

Never Okay Project

Website: https://neverokayproject.org/
Instgram: https://www.instagram.com/neverokayproject/
Twitter:https://twitter.com/neverokayprjct
Facebook: https://www.facebook.com/NeverOkayProject/
Linkedin: https://www.linkedin.com/groups/10380444/

Baca Juga

Tinggalkan Balasan